Efek samping yang ditimbulkan dari imunisasi hanya berupa efek yang ringan seperti demam, sakit kepala, lemas atau rasa tidak enak badan namun kasus tersebut dapat membaik secara cepat melalui pengobatan untuk mengurangi gejala yang timbul. Kejadian ikutan pasca imunisasi tidak selalu terjadi pada setiap orang yang diimunisasi.
Imunisasi adalah upaya pencegahan penyakit menular dengan memberikan vaksin sehingga terjadi imunitas kekebalan terhadap penyakit tersebut sedangkan vaksin itu sendiri adalah jenis bakteri atau virus yang sudah dilemahkan atau dimatikan guna merangsang sistem imun atau kekebalan dengan membentuk antibodi di dalam tubuh, antibodi ini juga yang melindungi tubuh di masa yang akan datang. Jadi secara garis besar Imunisasi adalah proses pembentukan antibodi atau kekebalan dalam tubuh kita.
MITOS DAN FAKTANYA TENTANG BAHAYA IMUNISASI
Lahirnya mitos tentang imunisasi bukan tanpa alasan, hal ini merupakan kasus yang muncul setelah terjadinya pemberian imunisasi pada anak, inilah yang menjadi dasar penyebab timbulnya mitos tentang imuniasi sehingga terjadinya keresehan pada orang tua.
Berikut beberapa mitos dan fakta tentang imunisasi :
- Apakah Imunisasi menyebabkan Autisme ?. Rumor tentang autisme dan vaksin MMR ( Mumps measles rubella) untuk mencegah penyakit gondongan (mumps ), Campak (measles) dan Rubela. Dari beberapa penelitian yang dilakukan dan pernyataan WHO menyatakan bahwa Vaksin MMR dan Autisme tidak memiliki hubungan korelatif maupun kausatif dengan Autisme pada anak-anak baik sebelum dan sesudah pemberian vaksin MMR.
- Vaksin menyebabkan kematian mendadak pada bayi. Pentingnya melakukan imunisasi untuk mencegah risiko tertular dan terserang penyakit infeksi menular yang berbahaya yang dapat mengakibatkan kecacatan permanen dan bahkan kematian. Mitosnya Vaksinasi DPT dapat menyebabkan kematian pada bayi atau SIDS
- Vaksin menyebabkan Autoimun. Kekhwatiran lain yang sering muncul terkait keselamatan yaitu kaitannya dengan vaksin dan autoimun. Kaitan ini telah diteliti secara ekstensif dengan penelitian epidemiologi terkait dengan gangguan autoimun yang menyatakan bahwa belum menemukan kaitanya dengan Imunisasi dengan autoimun.
- Pengawet yang digunakan dalam vaksin apakah aman ?. Kekhawatiran mengenai keamanan berbagai bahan vaksin termasuk bahan pengawetnya yaitu dua bahan yang paling sering digunakan yaitu Alumunium dan merkuri. Alumunium digunakan untuk meningkatkan kinerja dan khasiat sebuah vaksin serta meingkatkan respon imun sedangkan vaksin yang mengandung pengawet thimerosal ( pengawet berbahan merkuri ) berbeda dengan merkuri yang beracun meskipun bahannya mirip. Jadi dari penelitian yang telah dilakuakan pengawet pada vaksin aman dan tidak berbahaya.
- Apakah menerima banyak Vaksin dapat melemahkan sistem imun ?. Data epidemiologi dan imunologi membatah hal tersebut jika menerima vakisn banyak dapat melemahkan sistem imun karena tidak ditemukan hubungan yang mnerugikan untuk tubuh.
Jadi bisa disimpulkan bahwa melakukan imunisasi tergolong aman untuk sistem kekebalan tubuh anak akan tetapi pemberian imunisasi berlandasan jadwal dan saran dari dokter atau petugas kesehatan yang memberikan imunisasi.
Sedangkan unntuk bahaya imunisasi pada dasarnya hanya efek sementara yang ditimbulkan atau reaksi tubuh seperti demam ringan dan rasa tidak nyaman pada anak. Meskipun hal tersebut terjadi jangan ragu untuk melakukan imunisasi karena mempunyai efek yang sangat baik untuk anak anda.
Referensi :
Geoghegan, S., et al. (2020). Vaccine Safety: Myths and Misinformation. Frontiers in Microbiology, 11, pp. 372.
Souvriyanti, E., et al. (2004). Hubungan Vaksin Measles, Mumps, Rubella (MMR) Dengan Kejadian Autisme. Sari Pediatri, 6 (1), 2-9.
Noor A., Tehsin, A., et al. (2024). Vaccination and Immunization : Myths, Facts and Controversies. A Publication of Unique Scientific Publishers, 56, pp. 497-502.
Sriatmi, Ayun., et al. (2023). Buku Saku Mengenal Imunisasi Rutin Lengkap. Semarang : FKM UNDIP Press.
