Saat ini terdapat 3 penyakit infeksi yang rentan menular dari ibu ke janin yaitu HIV, Sifilis, dan Hepatitis B. Ketiga infkesi ini dapat menyebabkan kecacatan dan kematian bagi ibu dan bisa menurunkan kualitas hidup anak yang terdampak. Terutama Human Immunodeficiency Virus atau yang di kenal dengan HIV, pada kasus HIV Peningkatan kasus tersebut di Indonesia pada tahun 2023 sebesar 35%, yang diantaranya adalah ibu rumah tangga dan 0,3 % adalah ibu hamil yang diambil data dari kementerian kesehatan. Hal ini menjadi sangat serius tentang masalah kesehatan di indoensia dikarenkan ibu hamil yang mengidap HIV dapat berisiko tinggi menularkan HIV pada anaknya. Pada tahun 2020 terdapat 6.094 ibu hamil yang positif HIV hal ini menjadi perhatian besar bagi masyarakat agar lebih sadar mengenai bahaya infeksi HIV, baik bagi ibu maupun bagi anaknya. Dalam rangka memutus rantai penularan HIV, harus kita lakukan bersama-sama karena pola penularan dari penyakit tersebut relatif sama, yaitu dari hubungan seksual, pertukaran/kontaminasi darah dan secara vertikal dari ibu ke anak, baik selama dalam kandungan, dalam prosese persalinan, maupun saat menyusui.
Lalu apa itu HIV ?. Human Immunodeficiency Virus atau singkatnya HIV adalah retrovirus yang menginfeksi sistem imunitas seluler yang mengakibatkan kehancuran ataupun gangguan fungsi sistem atau dengan kata mudahnya yaitu virus yang menyerang sel-sel darah putih dalam sistem kekebalan tubuh. Virus ini melemahkan dan mengurangi kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam memerangi infeksi dan penyakit.
Gejala dan tanda infeksi HIV pada bayi dan anak antara lain bahwa bayi dan anak tersebut mudah mengalami infeksi berat, misalnya anak mengalami radang paru atau pneumonia dua kali atau lebih dalam 1 tahun, sering sariawan yang luas, berat badan turun, dan diare berulang.
Penularan HIV
HIV tidak ditularkan melalui udara, keringat, sentuhan, atau berbagi makanan, melainkan cairan tubuh, seperti darah, air mani, cairan vagina, dan air susu ibu (ASI). Cairan tubuh yang telah terinfeksi virus HIV masuk ke dalam tubuh melalui:
1. Hubungan Seksual. Hubungan seksual tanpa pengaman, baik melalui vagina, anus maupun oral berpotensi menularkan HIV, terutama bagi yang sering berganti-ganti pasangan.
2. Jarum Suntik. Menggunakan jarum suntik yang tidak steril atau bekas dipakai orang lain sangat berisiko menularkan penyakit, termasuk HIV.
3. Kehamilan dan Menyusui. Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan virus HIV pada bayinya, melalui cairan ketuban dan air susu ibu (ASI) yang telah terkontaminasi virus HIV. Konsultasikan kepada dokter jika Anda mengidap HIV saat hamil untuk menekan risiko penularan pada bayi.
Pemeriksaan HIV pada ibu hamil
Deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil dengan jalan pemeriksan atau Testing darah Tes ini dilakukan untuk menegakkan dignosa. Prinsip testing sukarela dan terjaga kerahasiannya. Testing yang digunnakan adalah testing serologis untuk mendeteksi antibodi dalam serum atau plasma.
HIV pada wanita hamil dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, seperti preeklamsia yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan adanya protein dalam urin, keguguran dan melahirkan prematur. Wanita hamil yang terinfeksi HIV bisa diketahui dengan melihat ciri-ciri berikut ini.
1. Kondisi fisik lemah. Karena HIV menyebabkan penurunan daya tahan tubuh, ibu hamil yang terinfeksi HIV menjadi lebih lemah dan rentan terinfeksi berbagai macam penyakit. Salah satunya mengalami flu dan demam yang berulang-ulang.
2. Ruam pada kulit. Ciri-ciri lainnya adalah munculnya ruam pada kulit sebagai reaksi terhadap infeksi HIV. Berupa bintik-bintik merah yang semakin lama semakin membesar dan banyak jumlahnya.
3. Bisul di sekitar alat kelamin. Ciri lainnya adalah munculnya bisul di sekitar alat kelamin yang bisa hilang, tapi kemudian muncul kembali.
4. Pembengkakan pada kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening adalah bagian tubuh yang berkaitan erat dengan sistem kekebalan, sehingga timbulnya pembengkakan pada kelenjar getah bening bisa menjadi tanda adanya infeksi HIV pada ibu hamil.
Ciri lain yang mungkin timbul
1. Nyeri otot dan sendi
2.Diare dan sakit tenggorokan
3. Gejala amenore dan herpes
4. Penurunan berat badan secara drastic
4. Bintik putih pada lidah
5. Penglihatan berkurang
Selain berdampak buruk pada ibu, HIV juga mempengaruhi janin yang dikandungnya. Bayi memiliki risiko lebih tinggi tertular, membuatnya rentan terhadap infeksi virus dan bakteri penyakit, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang, bahkan kematian. Bayi yang terinfeksi HIV juga berisiko tinggi lahir dengan berat badan lahir rendah, serta mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan fisik dan perkembangan mentalnya.
Oleh karenanya, penting untuk melakukan deteksi dini HIV pada ibu hamil. Karena ibu hamil yang menderita HIV memerlukan perawatan khusus untuk menangani infeksinya, serta mengurangi risiko penularan pada bayi.
Refrensi :
Wulandari, S., Viridula, E, Y., et.al. (2025). Optimalisasi edukasi skrining HIV pada ibu hamil dengan media video. Jurnal pengabdian kepada masyarakat, 6(2), 1321-1326.
Vitania, wiwit., et.al. (2025). Edukasi Pelaksanaan pemeriksaan HIV pada ibu hamil sebagai upaya deteksi dini penularan dari ibu ke bayi. Jurnal kreativitas pengabdian masyarakat, 8(8), 3824-3835.
Hartanto., Marianto. (2019). Infeksi human Immunodeficeincy Virus (HIV) dalam kehamilan. Continuing Medical Education, 46(5), 346-351.
Irianti, Berliana., et.al. Penyuluhan dan pemeriksaan tes HIV pada ibu hamil di Klinik Dince Safrina.
Darmayanti, Y. (2015). Analisis hambatan konselor dalam pelaksanaani deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil di puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi. Laporan Penelitian, Poltekkes Kemenkes Padang.
Kementerian Kesehatan Indoensia. (2024). Deteksi dini HIV pada Ibu Hamil: pentingnya Tes, Prosedur, dan Manfaat.
RS Sardjito. (2021). Mengenal progress bayi dari HIV/AIDS.
