Malnutrisi yaitu ketika tubuh tidak mendapatkan cukup nutrisi. Penyebabnya berupa pola makan yang buruk, kondisi pencernaan, atau penyakit lain.Kejadian gizi buruk perlu di deteksi sejak dini melalui identifikasi pemantauan pertumbuhan dan identifikasi faktor risiko yang erat dengan kejadian luar biasa gizi seperti campak dan diare melalui kegiatan pengamatan dan pengumpulan data. Dampak gizi buruk yang diakibatkan oleh malnutrisi ini adalah kematian pada umur yang sangat dini. Pasien-pasien yang masuk ke rumah sakit dalam kondisi status gizi buruk juga semakin meningkat, umumnya pasien-pasien tersebut adalah balita. Salah satu tanda gizi buruk balita adalah berat badan balita di bawah garis merah dalam buku KMS balita. Masalah gizi buruk balita merupakan masalah yang sangat serius, apabila tidak ditangani secara cepat dan cermat dapat berakhir dengan kematian.
Faktor penyebab gizi buruk terdiri atas penyebab langsung dan tak langsung, adapun penyebab tak langsung seperti kurangnya jumlah dan kualitas makanan yang di konsumsi, menderita penyakit infeksi, cacat bawaan, menderita penyakit kanker. Dan faktor penyebab secara langsung adalah ketersediaan pangan rumah tangga, perilaku dan pelayanan kesehatan lainnya. Selain itu, penyebab utama malnutrisi adalah kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, bencana alam dan bencana non alam, rendahnya akses ke pelayanan kesehatan.
Pada anak, jarak kelahiran yang terlalu dekat dapat meningkatkan risiko berat lahir rendah, asfiksia, kematian neonatal, malnutrisi. Pada infeksi kronis berulang seperti diare, penyakit infeksi saluran pernapasan dan demam meningkatkan risiko malnutrisi. Jumlah kalori tidak mampu memenuhi kebutuhan tubuh untuk beraktifitas dan tumbuh kembang, keadaan tersebut juga bisa menyebabkan malnutrsi.
PENCEGAHAN GIZI BURUK
Gizi buruk bisa dicegah dengan melakukan beberapa upaya berikut ini :
- Memberikan makanan bergizi lengkap dan seimbang sesuai kebutuhan anak.
- Menerapkan pola asuh yang baik.
- Memberikan ASI eksklusif hingga usia anak 6 bulan, dilanjutkan dengan memberikan MPASI yang bergizi lengkap dan seimbang.
- Mengukur tinggi dan berat badan anak secara berkala.
- Membawa anak untuk segera berobat bila terkena penyakit infeksi.
Refrensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2020. Pedoman Pencegahan dan Tatalaksana Gizi Buruk pada Balita.
Liansyah, T,M. (2015). Malnutrisi Pada Anak. Jurnal Universitas Syiah Kuala. 2(1), 1 – 10.
Kuntari, T., Jamil, N, A., Kurniati, O. (2013). Faktor Risiko Malnutrisi Pada Balita. Jurnal Kesmas. 2 (8), 572 – 576.
