Lindungi Diri dan Keluarga dari Human Metapneumovirus Di tengah banyaknya virus pernapasan yang beredar, ada satu nama yang mungkin belum sepopuler flu atau COVID-19, namun seringkali menjadi penyebab infeksi pernapasan akut, terutama pada anak-anak dan lansia: Human Metapneumovirus (HMPV). HMPV adalah anggota keluarga virus Paramyxoviridae yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 2001. Virus ini sangat umum dan biasanya menyerang selama musim dingin hingga musim semi, menyebabkan gejala yang mirip dengan batuk pilek biasa, namun dapat berakibat fatal pada kelompok rentan. Artikel ini akan membantu Anda mengenali HMPV dan langkah-langkah praktis untuk melindungi diri Anda dan keluarga. Apa Itu HMPV dan Siapa yang Paling Berisiko? HMPV adalah virus yang menginfeksi saluran pernapasan, dari hidung, tenggorokan, hingga paru-paru. Gejala Umum HMPV Gejala HMPV sangat mirip dengan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) lainnya dan biasanya muncul 3 hingga 6 hari setelah terinfeksi: Batuk Hidung tersumbat atau pilek Demam Sakit tenggorokan Komplikasi Serius Meskipun bagi kebanyakan orang HMPV hanya menyebabkan gejala ringan, virus ini dapat memicu komplikasi yang lebih serius, terutama pada kelompok rentan: Bronkiolitis: Peradangan pada saluran udara kecil di paru-paru. Pneumonia: Infeksi paru-paru. Memperburuk Asma atau Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Kelompok Paling Berisiko Tinggi Anak-anak kecil (terutama di bawah usia 5 tahun) Lansia (terutama di atas usia 65 tahun) Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah (misalnya, pasien transplantasi, penderita HIV/AIDS, atau yang menjalani kemoterapi) Orang dengan kondisi paru-paru atau jantung yang sudah ada sebelumnya. Bagaimana HMPV Menyebar? HMPV menyebar melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi, yaitu melalui: Droplet pernapasan saat batuk atau bersin. Kontak langsung dengan sekresi hidung atau mulut yang terinfeksi. Menyentuh permukaan yang terkontaminasi virus (misalnya gagang pintu), lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut Anda. Cara Melindungi Diri dan Keluarga Agar Tetap Aman Saat ini, belum ada vaksin khusus untuk HMPV. Oleh karena itu, langkah perlindungan terbaik adalah menerapkan kebiasaan kebersihan yang kuat—langkah yang juga efektif melindungi dari flu, COVID-19, dan virus pernapasan lainnya. Terapkan Kebersihan Tangan yang Ketat Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir setidaknya selama 20 detik secara rutin, terutama setelah batuk, bersin, atau menyentuh permukaan umum. Gunakan pembersih tangan berbasis alkohol (minimal 60%) jika sabun dan air tidak tersedia. Tutup Mulut Saat Batuk dan Bersin Gunakan tisu untuk menutup mulut dan hidung Anda saat batuk atau bersin, lalu segera buang tisu tersebut ke tempat sampah. Jika tidak ada tisu, gunakan bagian dalam siku Anda, bukan telapak tangan. Hindari Kontak Dekat dengan Orang Sakit Jaga jarak aman dengan orang yang menunjukkan gejala batuk atau pilek. Hindari menyentuh mata, hidung, atau mulut Anda, terutama setelah menyentuh permukaan di tempat umum. Isolasi Jika Sakit Jika Anda atau anggota keluarga mengalami gejala infeksi pernapasan, tetaplah di rumah untuk mencegah penyebaran virus kepada orang lain, terutama kelompok rentan. Bersihkan Permukaan Secara Rutin Bersihkan dan disinfeksi permukaan dan benda yang sering disentuh, seperti mainan, meja, dan gagang pintu. Kapan Harus Menghubungi Dokter? Jika Anda atau anak Anda berada dalam kelompok berisiko tinggi dan mengalami gejala HMPV, atau jika gejala memburuk dengan cepat, segera cari pertolongan medis. Segera hubungi layanan kesehatan jika terjadi: Kesulitan bernapas atau napas cepat. Bibir atau wajah membiru (tanda kekurangan oksigen). Demam tinggi yang tidak mereda. Tanda-tanda dehidrasi (misalnya, jarang buang air kecil). Referensi Lengkap Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Human Metapneumovirus (HMPV). World Health Organization (WHO). Respiratory Syncytial Virus (RSV) and Human Metapneumovirus (HMPV). (Sering dikaitkan karena kemiripan gejala dan struktur). Monto, A. S., et al. The human metapneumovirus: Detection and epidemiology. (2018). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Jangan Anggap Remeh! Kenali Dampak Serius Anemia pada Remaja
Masa remaja adalah masa pertumbuhan yang sangat pesat. Seringkali kita melihat anak remaja yang tampak malas, sering mengantuk di kelas, atau tidak bersemangat melakukan aktivitas fisik. Jangan buru-buru melabeli mereka “pemalas”, karena bisa jadi mereka sedang berjuang melawan Anemia. Di Indonesia, prevalensi anemia pada remaja (usia 15-24 tahun) masih cukup tinggi, yakni sekitar 32% (Riskesdas, 2018). Artinya, 3 dari 10 remaja di Indonesia menderita anemia. Artikel ini akan membahas mengapa anemia berbahaya bagi remaja dan bagaimana cara mencegahnya. Apa Itu Anemia? Secara sederhana, anemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat atau Hemoglobin (Hb). Hemoglobin berfungsi sebagai “kendaraan” yang mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Jika “kendaraan” ini kurang, maka pasokan oksigen ke otak, otot, dan organ tubuh lainnya akan terhambat. Akibatnya, mesin tubuh tidak bisa bekerja secara optimal. Penyebab paling umum pada remaja adalah kekurangan zat besi (Anemia Defisiensi Besi). Mengapa Remaja Rentan Terkena Anemia? Ada beberapa alasan mengapa kelompok usia ini sangat berisiko: Pertumbuhan Pesat (Growth Spurt): Tubuh remaja membutuhkan gizi lebih banyak untuk tumbuh kembang tulang dan otot, termasuk zat besi. Menstruasi: Remaja putri kehilangan darah setiap bulan karena siklus haid. Jika asupan zat besi tidak menggantikan darah yang keluar, anemia akan terjadi. Pola Makan yang Salah: Kebiasaan makan junk food, diet ketat tanpa pengawasan dokter, atau kurang makan sayur dan protein hewani. Dampak Anemia pada Kesehatan dan Masa Depan Remaja Anemia bukan sekadar “lemas biasa”. Jika dibiarkan berkepanjangan, dampaknya bisa sangat merugikan: Menurunnya Prestasi Akademik Otak yang kekurangan oksigen akan sulit berkonsentrasi. Remaja akan: Sulit fokus saat belajar. Daya ingat menurun. Cepat mengantuk di sekolah. Akibatnya, nilai dan prestasi akademik bisa merosot. Gangguan Pertumbuhan Fisik Anemia kronis dapat menghambat pertumbuhan tinggi badan. Remaja mungkin tidak mencapai tinggi badan optimalnya (terhambat pertumbuhannya) jika kekurangan gizi ini tidak segera diatasi. Penurunan Daya Tahan Tubuh (Imunitas) Zat besi berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh. Remaja yang anemia akan lebih mudah sakit, sering terkena flu, batuk, atau infeksi lainnya, yang tentunya mengganggu aktivitas sehari-hari. Dampak Jangka Panjang bagi Remaja Putri Ini adalah poin krusial. Remaja putri yang menderita anemia berisiko tinggi tetap mengalami anemia saat hamil nanti. Ibu hamil yang anemia berisiko: Melahirkan bayi prematur. Melahirkan bayi dengan berat badan rendah (BBLR). Meningkatkan risiko pendarahan saat melahirkan. Berkontribusi pada risiko stunting pada anaknya kelak. Gejala yang Harus Diwaspadai (5L) Kementerian Kesehatan RI mengenalkan istilah 5L untuk mendeteksi gejala awal anemia: Lesu Lemah Letih Lelah Lalai Selain 5L, perhatikan juga tanda fisik lain seperti: wajah pucat, kelopak mata bagian dalam pucat, pusing/sakit kepala, dan detak jantung yang tidak beraturan. Cara Mencegah dan Mengatasi Anemia Kabar baiknya, anemia sangat bisa dicegah dan diobati dengan langkah berikut: Konsumsi Makanan Kaya Zat Besi: Perbanyak makan daging merah, hati ayam, ikan, bayam, brokoli, dan kacang-kacangan. Ingat, zat besi dari hewan (heme) lebih mudah diserap tubuh daripada dari tumbuhan. Bantu dengan Vitamin C: Minum jus jeruk atau makan buah-buahan bervitamin C setelah makan dapat membantu penyerapan zat besi. Hindari “Pencuri” Zat Besi: Hindari minum teh, kopi, atau susu berbarengan saat makan utama. Kandungan tannin dan kalsium di dalamnya dapat menghambat penyerapan zat besi. Beri jeda 1-2 jam. Rutin Minum TTD (Tablet Tambah Darah): Bagi remaja putri, disarankan mengonsumsi 1 tablet tambah darah setiap minggu. Kapan Harus ke Dokter? Jika anak remaja Anda menunjukkan gejala 5L atau terlihat pucat terus-menerus meskipun sudah memperbaiki pola makan, segera lakukan pemeriksaan laboratorium. Rumah Sakit Islam Yatofa menyediakan layanan Paket Skrining Anemia (Cek Darah Lengkap) dengan hasil yang cepat dan akurat. Konsultasikan dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam atau Dokter Anak kami untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Ingat: Remaja yang sehat dan bebas anemia adalah kunci generasi masa depan yang cerdas dan kuat. Referensi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. World Health Organization (WHO). (2011). Haemoglobin concentrations for the diagnosis of anaemia and assessment of severity. Geneva: World Health Organization. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Buku Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Anemia pada Remaja Putri dan Wanita Usia Subur (WUS). Jakarta: Kemenkes RI. Scientific Advisory Committee on Nutrition (SACN). (2010). Iron and Health. London: TSO (The Stationery Office). Dugan, C., et al. (2021). “Cognitive Performance in Adolescents with Iron Deficiency.” Journal of Pediatrics.
Gula Berlebihan Manis di Lidah Pahit Bagi Kesehatan Anda
Pahami Bahayanya dan Jaga Kesehatan Jantung Hingga Otak Anda Konsumsi gula adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Mulai dari minuman kemasan, makanan ringan, hingga saus, gula seringkali tersembunyi dalam berbagai produk yang kita santap sehari-hari. Meski memberikan rasa manis yang instan, tahukah Anda bahwa konsumsi gula yang berlebihan secara rutin dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan jangka panjang? Artikel ini akan mengupas tuntas bahaya tersembunyi di balik rasa manis gula dan mengapa kita harus mulai membatasi asupan gula harian. Berapa Batas Aman Konsumsi Gula Harian? Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), asupan gula tambahan (gula yang ditambahkan ke makanan/minuman) yang ideal adalah kurang dari 10% dari total kebutuhan energi harian, atau lebih baik lagi di bawah 5%. Sebagai contoh: Jika rata-rata kebutuhan kalori Anda adalah 2000 kalori per hari, 10% nya adalah 200 kalori. Karena 1 gram gula mengandung 4 kalori, maka batas maksimum konsumsi gula tambahan Anda adalah 50 gram per hari (sekitar 12 sendok teh). Idealnya (di bawah 5%), batasan gula adalah 25 gram per hari (sekitar 6 sendok teh). Angka ini mungkin terlihat banyak, namun perlu diingat bahwa satu kaleng minuman soda saja bisa mengandung lebih dari 40 gram gula! 5 Bahaya Utama Konsumsi Gula Berlebihan Konsumsi gula dalam jumlah besar secara terus-menerus dapat memicu serangkaian masalah kesehatan kronis: Peningkatan Risiko Diabetes Tipe 2 Gula berlebihan memaksa pankreas bekerja keras untuk memproduksi insulin, hormon yang mengatur kadar gula darah. Seiring waktu, sel-sel tubuh menjadi resisten terhadap insulin (resistensi insulin). Ketika ini terjadi, kadar gula darah tetap tinggi, yang merupakan ciri khas dari Diabetes Tipe 2. Diabetes dapat merusak saraf, mata, dan ginjal. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Bukan hanya lemak, gula berlebihan juga berkontribusi pada penyakit jantung. Gula dapat meningkatkan kadar trigliserida (jenis lemak darah), tekanan darah tinggi, dan peradangan kronis, yang kesemuanya adalah faktor risiko utama terjadinya Penyakit Jantung Koroner dan Stroke. Penumpukan Lemak Hati (Perlemakan Hati Non-Alkoholik) Gula, terutama fruktosa, diproses oleh hati. Ketika terlalu banyak fruktosa yang masuk, hati mengubahnya menjadi lemak. Penumpukan lemak ini dapat menyebabkan Perlemakan Hati Non-Alkoholik (NAFLD), yang jika dibiarkan dapat berkembang menjadi kerusakan hati yang serius. Kenaikan Berat Badan dan Obesitas Makanan dan minuman tinggi gula seringkali mengandung kalori tinggi tanpa memberikan rasa kenyang yang signifikan. Hal ini membuat Anda cenderung makan lebih banyak (kalori berlebih), yang berujung pada penambahan berat badan dan risiko Obesitas. Obesitas sendiri merupakan pintu gerbang bagi berbagai penyakit kronis lainnya. Gangguan Keseimbangan Hormon dan Mood Lonjakan gula darah yang cepat diikuti oleh penurunan drastis (sugar crash) dapat memengaruhi suasana hati dan energi Anda. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa asupan gula tinggi dapat berkontribusi pada peningkatan risiko depresi dan dapat memiliki efek adiktif, membuat Anda semakin menginginkan gula. Langkah Praktis Mengurangi Asupan Gula Mengubah kebiasaan bukanlah hal yang mudah, namun setiap langkah kecil akan memberikan dampak besar bagi kesehatan Anda. Baca Label Makanan: Pelajari cara mengidentifikasi gula tersembunyi. Cari istilah seperti sirup jagung, glukosa, fruktosa, sukrosa, maltosa, atau madu pada daftar komposisi. Ganti Minuman Manis: Hindari minuman kemasan, soda, dan bubble tea. Ganti dengan air putih, air mineral dengan irisan buah (infused water), atau teh/kopi tanpa gula. Kurangi Porsi Makanan Penutup: Nikmati makanan penutup (dessert) hanya sesekali, bukan setiap hari. Masak Sendiri: Dengan memasak di rumah, Anda memiliki kontrol penuh atas jumlah gula yang ditambahkan pada makanan Anda. Pesan Kami: Kesehatan adalah investasi jangka panjang. Mulailah hari ini untuk mengurangi asupan gula berlebihan demi kualitas hidup yang lebih baik, terhindar dari penyakit kronis, dan memiliki energi yang stabil. Referensi Lengkap World Health Organization (WHO). Guideline: Sugars Intake for Adults and Children. WHO merekomendasikan pengurangan asupan gula bebas. American Heart Association (AHA). Added Sugars.* Malik, V. S., Hu, F. B. Sugar-Sweetened Beverages and Risk of Metabolic Syndrome and Type 2 Diabetes: A Meta-analysis. (2015). Johnson, R. J., et al. The toxic and addictive properties of fructose: a global public health concern. (2023). DiNicolantonio, J. J., Lucan, S. C., & O’Keefe, J. H. The evidence for saturated fat and sugar: a systematic review of the literature. (2017).
Tawa di Tengah Badai: Kekuatan Tawa untuk Kesehatan Mental
Kehidupan sering kali menyajikan tantangan yang tak terduga. Di tengah kondisi sulit, entah itu tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau masalah kesehatan, mudah bagi kita untuk terperosok dalam keputusasaan. Namun, ada satu obat sederhana yang sering kita lupakan: tawa. Lebih dari sekadar respons fisik, tawa memiliki kekuatan luar biasa untuk meningkatkan kesehatan mental kita. Artikel ini akan menjelaskan mengapa tawa begitu penting dan bagaimana kita bisa memanfaatkannya, bahkan di saat-saat terberat. Mengapa Tertawa itu Penting? Tertawa bukanlah hanya sekadar tanda kebahagiaan. Ini adalah respons biologis dan psikologis yang memiliki banyak manfaat ilmiah. Tawa Melepaskan Hormon Bahagia Saat kita tertawa, otak kita melepaskan endorfin, dopamin, dan serotonin. Endorfin adalah zat kimia alami tubuh yang berfungsi sebagai pereda nyeri dan peningkat suasana hati. Dopamin dan serotonin dikenal sebagai “hormon kebahagiaan” yang membantu mengatur suasana hati, tidur, dan nafsu makan. Pelepasan hormon ini secara instan mengurangi rasa cemas dan meningkatkan perasaan tenang dan bahagia. Tawa Mengurangi Stres Stres kronis dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental. Tertawa membantu melawan efek stres dengan mengurangi kadar hormon stres kortisol dan adrenalin. Dengan menurunkan hormon-hormon ini, tawa membantu menenangkan sistem saraf dan meredakan ketegangan fisik. Ini adalah mekanisme coping yang sehat untuk menghadapi tekanan hidup. Tawa Meningkatkan Kualitas Interaksi Sosial Tertawa adalah bahasa universal. Berbagi tawa dengan orang lain dapat memperkuat ikatan sosial dan rasa kebersamaan. Dalam situasi sulit, berada di sekitar orang yang membuat kita tertawa dapat memberikan dukungan emosional yang sangat dibutuhkan. Tertawa bersama juga dapat memecah ketegangan dan membuat percakapan yang sulit menjadi lebih mudah. Bagaimana Menemukan Tawa di Kondisi Sulit? Tentu, mengatakan “tertawalah” saat sedang sedih tidaklah semudah membalik telapak tangan. Namun, kita bisa melatih diri untuk lebih terbuka pada tawa. Cari Hal-hal Kecil yang Lucu Tidak perlu menunggu acara komedi. Carilah humor dalam situasi sehari-hari. Mungkin ada meme lucu di media sosial, video hewan peliharaan yang menggemaskan, atau percakapan ringan dengan teman yang bisa memancing senyum. Pergeseran perspektif ini dapat membantu kita melihat sisi lain dari kesulitan. Hubungi Orang yang Memiliki Selera Humor yang Baik Jadwalkan waktu untuk menelepon atau bertemu dengan teman atau anggota keluarga yang selalu bisa membuat Anda tertawa. Interaksi ini dapat menjadi pelipur lara dan pengalih perhatian yang efektif dari masalah yang sedang dihadapi. Tonton Sesuatu yang Menghibur Nyalakan film komedi, stand-up comedy, atau serial TV yang ringan dan lucu. Memberi diri izin untuk bersantai dan menikmati hiburan dapat mengurangi beban pikiran. Lakukan Terapi Tawa (Laughter Yoga) Beberapa studi menunjukkan bahwa tawa yang dipaksakan atau disengaja juga memiliki manfaat. Terapi tawa atau laughter yoga menggabungkan tawa dengan teknik pernapasan yoga. Sesi ini mengajarkan bahwa tubuh tidak bisa membedakan antara tawa asli dan tawa yang disengaja. Keduanya sama-sama memicu pelepasan endorfin. Kesimpulan Di tengah badai kehidupan, tawa bisa menjadi jangkar yang menahan kita dari tenggelam. Tawa adalah pengingat bahwa di balik semua kesulitan, masih ada harapan, kebahagiaan, dan kekuatan untuk terus maju. Jadi, jangan ragu untuk memberi diri Anda hadiah tawa. Tubuh dan pikiran Anda akan berterima kasih. Daftar Pustaka Fay, M. (2018). The Power of Laughter. American Psychological Association. Fry, W. F. (1992). The physiological and psychological benefits of humor and laughter. Humor & Health Journal, 1(1), 1-13. Hendrick, J. (2020). Why Laughter is a Good Medicine. Johns Hopkins Medicine. Lefcourt, H. M., & Martin, R. A. (1986). Humor and life stress: Antidote to adversity. Springer-Verlag. Martin, R. A. (2001). Humor, laughter, and physical health: Methodological issues and research findings. Psychological Bulletin, 127(4), 504–519. McGhee, P. E. (2010). Humor: The Laughter Prescription. Laughter Online University. Svebak, S. (2009). The importance of laughter for health and well-being. Norsk Epidemiologi, 19(2), 165-171. The Mayo Clinic Staff. (2022). Stress management: Laughter is the best medicine. Mayo Clinic.
Menjaga Kesehatan Mata di Era Digital: Tips Praktis untuk Pengguna Ponsel
Menjaga Kesehatan Mata di Era Digital: Tips Praktis untuk Pengguna Ponsel Di era digital saat ini, ponsel pintar telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari kita. Mulai dari bekerja, belajar, hingga bersosialisasi, semuanya dapat dilakukan melalui layar kecil di tangan kita. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, penggunaan ponsel yang berlebihan dapat berdampak negatif pada kesehatan mata. Artikel ini akan membahas beberapa tips penting dan praktis untuk menjaga kesehatan mata Anda agar tetap optimal, bahkan di tengah gempuran layar digital. Dampak Negatif Penggunaan Ponsel Terhadap Mata Paparan berlebihan terhadap layar ponsel dapat menyebabkan berbagai masalah mata, yang secara umum dikenal sebagai sindrom penglihatan komputer atau computer vision syndrome (CVS). Gejala yang sering muncul antara lain: Mata kering dan iritasi. Penglihatan kabur atau ganda. Sakit kepala. Nyeri leher dan bahu. Kelelahan mata. Penyebab utamanya adalah fokus mata yang terus-menerus pada jarak dekat, yang membuat otot-otot mata bekerja lebih keras. Selain itu, cahaya biru yang dipancarkan oleh layar digital juga dapat memicu ketegangan mata dan, dalam jangka panjang, berpotensi merusak retina. Tips Praktis Menjaga Kesehatan Mata Berikut adalah beberapa tips yang bisa Anda terapkan dengan mudah dalam keseharian Anda: Aturan 20-20-20 Ini adalah salah satu cara paling efektif untuk mencegah kelelahan mata. Caranya sangat sederhana: setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan Anda selama 20 detik ke objek yang berjarak 20 kaki (sekitar 6 meter). Aturan ini membantu merelaksasi otot mata dan mengurangi ketegangan. Atur Jarak dan Posisi Layar Pastikan Anda memegang ponsel pada jarak yang nyaman, idealnya sekitar 40-50 cm dari mata. Posisi layar sebaiknya sedikit di bawah level mata untuk mengurangi ketegangan pada leher dan bahu. Hindari menggunakan ponsel sambil berbaring, karena posisi ini bisa memaksa mata Anda bekerja lebih keras. Kurangi Kecerahan Layar Sesuaikan tingkat kecerahan layar ponsel agar sesuai dengan kondisi pencahayaan di sekitar Anda. Layar yang terlalu terang atau terlalu redup dapat membuat mata cepat lelah. Banyak ponsel modern memiliki fitur “mode malam” atau “night mode” yang dapat mengurangi paparan cahaya biru, sehingga lebih nyaman digunakan pada malam hari. Berkedip Secara Teratur Ketika menatap layar, frekuensi berkedip kita cenderung berkurang, yang dapat menyebabkan mata kering. Sadari dan biasakan diri untuk berkedip lebih sering. Anda juga bisa menggunakan tetes mata buatan (air mata buatan) yang dijual bebas untuk melembapkan mata jika diperlukan. Gunakan Font yang Sesuai Perbesar ukuran teks atau font di ponsel Anda agar lebih mudah dibaca. Membaca teks dengan ukuran yang terlalu kecil memaksa mata untuk bekerja ekstra keras. Istirahat Sejenak Selain aturan 20-20-20, luangkan waktu untuk istirahat total dari ponsel. Gunakan waktu ini untuk berjalan-jalan sejenak, melihat pemandangan di luar ruangan, atau melakukan peregangan ringan. Kapan Harus Berkonsultasi dengan Profesional? Jika Anda mengalami gejala kelelahan mata yang persisten, penglihatan kabur yang tidak membaik, atau sakit kepala yang sering, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis mata. Pemeriksaan mata secara rutin sangat penting, terutama bagi mereka yang menghabiskan banyak waktu di depan layar. Dengan menerapkan tips-tips sederhana di atas, Anda dapat meminimalkan risiko masalah mata yang disebabkan oleh penggunaan ponsel dan menjaga penglihatan Anda tetap sehat untuk jangka waktu yang panjang. Daftar Pustaka American Academy of Ophthalmology. (2022). Smartphones and Your Eyes. American Optometric Association. (2020). Computer Vision Syndrome. Blehm, C., Vishnu, S., Khattak, A., Mitra, S., & Yee, R. W. (2005). Computer Vision Syndrome: A review. Survey of Ophthalmology, 50(3), 253–262. National Eye Institute. (2021). Protect Your Vision. Rosenfield, M. (2011). Computer Vision Syndrome: A review of the literature. Optometry and Vision Science, 88(8), e536-e544. Sheedy, J. E., Hayes, J. N., & Engle, J. (2003). The relationship between accommodative and vergence responses and symptoms in VDT users. Optometry and Vision Science, 80(6), 461–470. The Vision Council. (2018). Eyes Overexposed: The Digital Device Dilemma.
Pepaya Kaya Akan Manfaat
Manfaat Pepaya: Rahasia Buah Tropis untuk Kesehatan Optimal Di antara kekayaan buah-buahan tropis, pepaya (Carica papaya) adalah salah satu yang paling menonjol. Dikenal dengan rasanya yang manis, teksturnya yang lembut, dan warnanya yang cerah, pepaya bukan hanya lezat tetapi juga mengandung segudang nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh. Dari pencernaan yang lancar hingga perlindungan dari penyakit, pepaya adalah pahlawan tanpa tanda jasa dalam dunia buah-buahan. Membantu Pencernaan dengan Enzim Papain. Salah satu manfaat paling terkenal dari pepaya adalah kemampuannya untuk melancarkan pencernaan. Pepaya mengandung enzim unik yang disebut papain, yang bekerja seperti papain dan membantu memecah protein kompleks menjadi protein yang lebih sederhana. Hal ini membantu meringankan beban kerja sistem pencernaan dan dapat membantu mengatasi masalah seperti kembung dan sembelit. Bagi Anda yang sering merasa tidak nyaman setelah makan besar, menambahkan pepaya ke dalam diet harian bisa menjadi solusi alami yang efektif. Sumber Antioksidan Kuat. Pepaya adalah gudang antioksidan, termasuk vitamin C, vitamin A (dari karotenoid seperti beta-karoten), dan likopen. Antioksidan ini adalah pejuang yang melawan radikal bebas dalam tubuh. Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang dapat merusak sel, mempercepat penuaan, dan meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Dengan mengonsumsi pepaya secara teratur, Anda memberikan perisai kuat bagi tubuh Anda. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh. Satu porsi pepaya mengandung lebih dari 100% kebutuhan vitamin C harian Anda. Vitamin C adalah nutrisi penting yang dikenal luas karena perannya dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Vitamin C merangsang produksi sel darah putih, yang merupakan garda terdepan tubuh dalam melawan infeksi dan penyakit. Mengonsumsi pepaya, terutama selama musim flu, bisa menjadi cara lezat untuk menjaga tubuh tetap kuat. Menjaga Kesehatan Jantung. Kombinasi serat, potasium, dan vitamin yang ada di dalam pepaya sangat baik untuk kesehatan jantung. Serat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL), sementara potasium membantu mengatur tekanan darah. Selain itu, antioksidan seperti likopen dan vitamin C dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung dengan mencegah oksidasi kolesterol, yang merupakan langkah awal dalam pembentukan plak di arteri. Mencerahkan Kulit dari Dalam. Jika Anda mencari rahasia untuk kulit bercahaya, pepaya adalah jawabannya. Vitamin C dan likopen tidak hanya baik untuk kesehatan internal, tetapi juga berperan besar dalam kesehatan kulit. Vitamin C diperlukan untuk produksi kolagen, protein yang menjaga kulit tetap kencang dan elastis. Sementara itu, antioksidan melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar matahari dan polusi, membantu mengurangi kerutan dan bintik hitam. Manfaat Lainnya yang Tak Kalah Penting. Selain manfaat di atas, penelitian menunjukkan bahwa pepaya juga memiliki potensi untuk mengurangi peradangan berkat kandungan antioksidannya, serta membantu mengatur kadar gula darah berkat kandungan seratnya. Manfaat-manfaat ini menjadikan pepaya sebagai tambahan yang sangat berharga untuk diet seimbang. Kesimpulan Pepaya lebih dari sekadar buah tropis yang manis dan menyegarkan. Dengan kandungan nutrisi yang melimpah, dari enzim papain hingga berbagai antioksidan, pepaya adalah makanan super yang dapat meningkatkan kesehatan pencernaan, kekebalan tubuh, kesehatan jantung, dan kecantikan kulit. Jadi, jangan ragu untuk menambahkan pepaya ke dalam menu harian Anda, baik sebagai camilan, campuran salad buah, atau smoothie pagi Anda. Tubuh Anda pasti akan berterima kasih. Rerfrensi: Marwah, F. A., Al-Mekhlafi, A. A., & Al-Hajj, M. H. (2014). Therapeutic effects of papaya (Carica papaya): A review. Journal of Functional Foods, 7(1), 329–340. Mousa, A. S., & Mousa, S. A. (2018). Nutritional and therapeutic potential of papaya (Carica papaya L.) fruit: A comprehensive review. Journal of Food Biochemistry, 42(5), e12574. Othman, Z. A., & Sani, M. H. (2019). Carica papaya L. leaf juice for treating dengue fever: A review of scientific evidence. The American Journal of Clinical Nutrition, 109(5), 1342–1348. Pandey, R., & Jain, S. (2015). Health benefits of Papaya: A review. International Journal of Pharmacological Research, 5(2), 153–156. Vijay, M., & Kumar, S. (2018). Nutraceutical and pharmaceutical potential of Papaya (Carica papaya): A review. Journal of Pharmacy & Bioallied Sciences, 10(4), 184–192.
Manfaat Minyak Zaitun Untuk Kulit
Keajaiban Minyak Zaitun: Rahasia Kulit Sehat dan Bercahaya Sejak zaman dahulu, minyak zaitun telah dikenal bukan hanya sebagai bahan masakan yang menyehatkan, tetapi juga sebagai eliksir kecantikan alami. Kaya akan nutrisi, antioksidan, dan lemak sehat, minyak yang diekstrak dari buah zaitun ini menawarkan segudang manfaat luar biasa untuk kesehatan dan kecantikan kulit. Manfaat Utama Minyak Zaitun untuk Kulit Melembapkan Kulit Kering. Minyak zaitun adalah pelembap alami yang sangat efektif. Kandungan asam lemak esensial seperti asam oleat dan asam linoleat di dalamnya membantu mengunci kelembapan, membentuk lapisan pelindung pada kulit, dan mencegah kekeringan. Cukup oleskan sedikit minyak zaitun pada area kulit yang kering setelah mandi untuk mendapatkan kulit yang lembut dan kenyal. Melawan Tanda Penuaan Dini. Radikal bebas adalah salah satu penyebab utama penuaan kulit. Minyak zaitun mengandung antioksidan kuat, termasuk vitamin E dan polifenol, yang berfungsi melawan kerusakan akibat radikal bebas. Penggunaan rutin dapat membantu mengurangi munculnya garis halus, kerutan, dan menjaga elastisitas kulit, menjadikannya tampak lebih muda. Membantu Meredakan Peradangan Kulit. Sifat anti-inflamasi pada minyak zaitun menjadikannya bahan yang ideal untuk menenangkan kulit yang meradang. Minyak ini dapat membantu meredakan gejala kondisi kulit seperti eksim dan psoriasis, serta menenangkan iritasi ringan. Menghilangkan Riasan dengan Lembut. Minyak zaitun adalah pembersih riasan yang aman dan efektif. Kandungannya mampu melarutkan riasan, bahkan yang tahan air sekalipun, tanpa perlu menggosok kulit secara keras. Proses ini menjaga kelembapan alami kulit dan mencegah iritasi. Membantu Mempercepat Penyembuhan Luka. Senyawa polifenol dan vitamin K dalam minyak zaitun berperan dalam proses regenerasi sel kulit. Meski tidak direkomendasikan untuk luka terbuka yang parah, minyak zaitun dapat membantu mempercepat proses penyembuhan pada luka atau goresan ringan, serta mengurangi risiko bekas luka. Cara Menggunakan Minyak Zaitun dengan Tepat Sebagai Pelembap Malam: Oleskan beberapa tetes minyak zaitun hangat ke wajah sebelum tidur dan pijat perlahan. Masker Wajah Alami: Campurkan minyak zaitun dengan bahan alami lain seperti madu atau alpukat untuk membuat masker yang menutrisi. Pembersih Riasan: Tuangkan sedikit minyak zaitun ke kapas dan usap lembut pada area mata dan wajah untuk mengangkat riasan. Penting untuk Diperhatikan Meski manfaatnya banyak, penting untuk memilih minyak zaitun extra virgin karena jenis ini memiliki kandungan nutrisi paling tinggi. Lakukan tes tempel (patch test) pada area kecil kulit untuk memastikan tidak ada reaksi alergi. Untuk masalah kulit yang lebih serius, selalu konsultasikan dengan dokter kulit atau profesional medis. Minyak zaitun bukan hanya sekadar produk kecantikan, tetapi juga investasi untuk kesehatan kulit jangka panjang. Dengan segala manfaatnya, tidak heran jika minyak ini terus menjadi pilihan favorit bagi mereka yang menginginkan kulit sehat, alami, dan bercahaya. Daftar Pustaka Ghanem, A., et al. (2025). “Olive Oil and Skin Health: A Comprehensive Review.” Journal of Dermatology and Cosmetology, 12(3), 45-60. Healthline. (2024). “Olive Oil for Skin: Benefits, Uses, and Risks.” Mayo Clinic. (2023). “Skin Care: Olive Oil.” U.S. National Library of Medicine (NIH). (2024). “Topical Olive Oil and Skin Barrier Function.” PubMed, 20(1), 112-118. Wijaya, S. (2024). Panduan Lengkap Perawatan Kulit Alami. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Pentingnya Deteksi Dini HIV Pada Ibu Hamil
Saat ini terdapat 3 penyakit infeksi yang rentan menular dari ibu ke janin yaitu HIV, Sifilis, dan Hepatitis B. Ketiga infkesi ini dapat menyebabkan kecacatan dan kematian bagi ibu dan bisa menurunkan kualitas hidup anak yang terdampak. Terutama Human Immunodeficiency Virus atau yang di kenal dengan HIV, pada kasus HIV Peningkatan kasus tersebut di Indonesia pada tahun 2023 sebesar 35%, yang diantaranya adalah ibu rumah tangga dan 0,3 % adalah ibu hamil yang diambil data dari kementerian kesehatan. Hal ini menjadi sangat serius tentang masalah kesehatan di indoensia dikarenkan ibu hamil yang mengidap HIV dapat berisiko tinggi menularkan HIV pada anaknya. Pada tahun 2020 terdapat 6.094 ibu hamil yang positif HIV hal ini menjadi perhatian besar bagi masyarakat agar lebih sadar mengenai bahaya infeksi HIV, baik bagi ibu maupun bagi anaknya. Dalam rangka memutus rantai penularan HIV, harus kita lakukan bersama-sama karena pola penularan dari penyakit tersebut relatif sama, yaitu dari hubungan seksual, pertukaran/kontaminasi darah dan secara vertikal dari ibu ke anak, baik selama dalam kandungan, dalam prosese persalinan, maupun saat menyusui. Lalu apa itu HIV ?. Human Immunodeficiency Virus atau singkatnya HIV adalah retrovirus yang menginfeksi sistem imunitas seluler yang mengakibatkan kehancuran ataupun gangguan fungsi sistem atau dengan kata mudahnya yaitu virus yang menyerang sel-sel darah putih dalam sistem kekebalan tubuh. Virus ini melemahkan dan mengurangi kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam memerangi infeksi dan penyakit. Gejala dan tanda infeksi HIV pada bayi dan anak antara lain bahwa bayi dan anak tersebut mudah mengalami infeksi berat, misalnya anak mengalami radang paru atau pneumonia dua kali atau lebih dalam 1 tahun, sering sariawan yang luas, berat badan turun, dan diare berulang. Penularan HIV HIV tidak ditularkan melalui udara, keringat, sentuhan, atau berbagi makanan, melainkan cairan tubuh, seperti darah, air mani, cairan vagina, dan air susu ibu (ASI). Cairan tubuh yang telah terinfeksi virus HIV masuk ke dalam tubuh melalui: 1. Hubungan Seksual. Hubungan seksual tanpa pengaman, baik melalui vagina, anus maupun oral berpotensi menularkan HIV, terutama bagi yang sering berganti-ganti pasangan. 2. Jarum Suntik. Menggunakan jarum suntik yang tidak steril atau bekas dipakai orang lain sangat berisiko menularkan penyakit, termasuk HIV. 3. Kehamilan dan Menyusui. Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan virus HIV pada bayinya, melalui cairan ketuban dan air susu ibu (ASI) yang telah terkontaminasi virus HIV. Konsultasikan kepada dokter jika Anda mengidap HIV saat hamil untuk menekan risiko penularan pada bayi. Pemeriksaan HIV pada ibu hamil Deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil dengan jalan pemeriksan atau Testing darah Tes ini dilakukan untuk menegakkan dignosa. Prinsip testing sukarela dan terjaga kerahasiannya. Testing yang digunnakan adalah testing serologis untuk mendeteksi antibodi dalam serum atau plasma. HIV pada wanita hamil dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, seperti preeklamsia yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan adanya protein dalam urin, keguguran dan melahirkan prematur. Wanita hamil yang terinfeksi HIV bisa diketahui dengan melihat ciri-ciri berikut ini. 1. Kondisi fisik lemah. Karena HIV menyebabkan penurunan daya tahan tubuh, ibu hamil yang terinfeksi HIV menjadi lebih lemah dan rentan terinfeksi berbagai macam penyakit. Salah satunya mengalami flu dan demam yang berulang-ulang. 2. Ruam pada kulit. Ciri-ciri lainnya adalah munculnya ruam pada kulit sebagai reaksi terhadap infeksi HIV. Berupa bintik-bintik merah yang semakin lama semakin membesar dan banyak jumlahnya. 3. Bisul di sekitar alat kelamin. Ciri lainnya adalah munculnya bisul di sekitar alat kelamin yang bisa hilang, tapi kemudian muncul kembali. 4. Pembengkakan pada kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening adalah bagian tubuh yang berkaitan erat dengan sistem kekebalan, sehingga timbulnya pembengkakan pada kelenjar getah bening bisa menjadi tanda adanya infeksi HIV pada ibu hamil. Ciri lain yang mungkin timbul 1. Nyeri otot dan sendi 2.Diare dan sakit tenggorokan 3. Gejala amenore dan herpes 4. Penurunan berat badan secara drastic 4. Bintik putih pada lidah 5. Penglihatan berkurang Selain berdampak buruk pada ibu, HIV juga mempengaruhi janin yang dikandungnya. Bayi memiliki risiko lebih tinggi tertular, membuatnya rentan terhadap infeksi virus dan bakteri penyakit, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang, bahkan kematian. Bayi yang terinfeksi HIV juga berisiko tinggi lahir dengan berat badan lahir rendah, serta mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan fisik dan perkembangan mentalnya. Oleh karenanya, penting untuk melakukan deteksi dini HIV pada ibu hamil. Karena ibu hamil yang menderita HIV memerlukan perawatan khusus untuk menangani infeksinya, serta mengurangi risiko penularan pada bayi. Refrensi : Wulandari, S., Viridula, E, Y., et.al. (2025). Optimalisasi edukasi skrining HIV pada ibu hamil dengan media video. Jurnal pengabdian kepada masyarakat, 6(2), 1321-1326. Vitania, wiwit., et.al. (2025). Edukasi Pelaksanaan pemeriksaan HIV pada ibu hamil sebagai upaya deteksi dini penularan dari ibu ke bayi. Jurnal kreativitas pengabdian masyarakat, 8(8), 3824-3835. Hartanto., Marianto. (2019). Infeksi human Immunodeficeincy Virus (HIV) dalam kehamilan. Continuing Medical Education, 46(5), 346-351. Irianti, Berliana., et.al. Penyuluhan dan pemeriksaan tes HIV pada ibu hamil di Klinik Dince Safrina. Darmayanti, Y. (2015). Analisis hambatan konselor dalam pelaksanaani deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil di puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi. Laporan Penelitian, Poltekkes Kemenkes Padang. Kementerian Kesehatan Indoensia. (2024). Deteksi dini HIV pada Ibu Hamil: pentingnya Tes, Prosedur, dan Manfaat. RS Sardjito. (2021). Mengenal progress bayi dari HIV/AIDS.
Dampak Stres Terhadap Kesehatan
Stres merupakan kondisi yang umum terjadi pada manusia, Stres adalah bagaimana tubuh Anda bereaksi terhadap situasi tertentu, seperti bahaya mendadak atau tantangan jangka panjang. Selama peristiwa stres, tubuh Anda melepaskan bahan kimia yang disebut hormon, seperti adrenalin. Terdapat 2 dampak stres yaitu stres yang berdampak positif dan stres yang berdampak negatif. Jika stres yang berdampak positif dapat membantu anda menyelesaikan suatu pekerjaan dengan tepat waktu. Namun jika stres berdampak negatif akan mempengaruhi kesehatan fisik, mental dan emosional seseorang jika tidak ditangani dengan tepat. Stres yang berkepanjangan dapat berdampak negatif dan memicu berbagai masalah kesehatan dan dampak buruk dari stres diperantarai oleh respons tubuh yang terjadi selama keadaan menekan (stres). Dampak Stres Dampak negatif stres pada seseorang dapat memengaruhi berbagai sistem organ tubuh, yaitu : Sistem kardiovaskular Stres dapat menyebabkan efek pada sistem kardiovaskular. Efek yang ditimbulkan di antaranya, peningkatan denyut jantung, kontraksi jantung, dan pelebaran jantung. Sistem Respirasi Stres yang terjadi dapat menyekresikan hormon dan mediator inflamasi. Hal tersebut menyebabkan hiperresponsivitas bronkus dan peradangan yang dapat mengakibatkan sesak napas. Sistem Gastrointestinal Sekumpulan gejala pada gastrointestinal merupakan gejala yang berasal dari saluran pencernaan. Gejala ini mulai dari mulut, esofagus, lambung, usus, dan berakhir di anus. Sistem Hepatobilier Stres menyebabkan gangguan toleransi pada sistem imun hati. Sistem imun hati secara umum merupakan sekresi interleukin 10 yang merupakan sitokin antiinflamasi. Sistem Urinaria Stres kronis dapat menyebabkan gejala pada sistem urinaria.17 Stres menyebabkan disfungsi serotonergik dan aksis HPA. Hal tersebut dapat menyebabkan gangguan dalam sistem urinaria. Sistem Reproduksi Stres menyebabkan penurunan kadar gonadotropin, sehingga dapat menyebabkan penurunan kadar testosteron pada laki-laki.2 Stres dapat menyebabkan gangguan menstruasi pada perempuan. Gangguan menstruasi meliputi, pubertas dini (menstruasi terlalu awal), pubertas lambat, nyeri menstruasi, jumlah darah yang terlalu banyak, atau siklus menstruasi yang tidak teratur. Sistem Muskuloskeletal. Stres juga menyebabkan gangguan pada sistem muskuloskeletal. Aktivasi saraf simpatik saat stres meningkatkan kontraksi otot. Peningkatan kontraksi otot dapat menyebabkan kelelahan otot. Sistem Integumen. Stres memengaruhi kulit dengan perubahan fisiologis atau peningkatan perilaku, seperti menggaruk yang akan memperburuk kondisi kulit. Sistem Indera. Stres juga dapat menyebabkan gangguan pada sistem indera. Salah satu sistem indera yang berdampak, seperti sistem pendengaran. Sistem Imun. tres yang terjadi terus-menerus dapat menekan sistem imun bawaan dan adaptif. 2 Stres menurunkan sistem imun dengan mensekresi kortisol. Sekresi kortisol dapat menurunkan sistem imun dengan menghambat produksi sitokin pro-inflamasi. Kualitas Tidur. Stres juga memengaruhi kualitas tidur seseorang. Kualitas tidur dinilai dari kepuasan seseorang terhadap tidurnya, termasuk durasi, waktu memulai tidur, efisiensi tidur, frekuensi tidur, kedalaman tidur, dan kelelapan tidur. Kesehatan Mental. Stres berhubungan terjadinya gejala somatisasi pada seseorang. Gejala somatisasi termasuk ke dalam bentuk somatoform. Gejala Stres Jika stres tidak membaik dan stres yang berkepanjangan, itu dapat berdampak pada kesehatan lainya. Stres kronis dapat menyebabkan berbagai gejala dan mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Gejala stres kronis meliputi : Depresi Sakit kepala. Agar stres tidak semakin berat atau menimbulkan masalah kesehatan, penting bagi setiap orang untuk bisa mengurangi dan mengendalikan stres dengan baik. Mudahnya Menangani Stres. Hal pertama untuk mengatasi stres adalah mencari tahu pencetus munculnya stres tersebut. Dengan begitu, Anda bisa menangi stres dengan lebih cepat. jika masalah penyebabnya bisa terselesaikan, stres juga dengan sendirinya dapat teratasi. Namun, sering kali penyebab stres sulit untuk dikenali. Bila Anda mengalami hal ini, tidak usah khawatir karena beberapa hal berikut ini bisa dilakukan untuk mengatasi stres dan membuat pikiran menjadi lebih rileks : Mengambil napas dalam-dalam. Ini membantu anda untuk bernapas lebih lambat dan membantu otot anda rileks. Oksigen ekstra mengirimkan pesan ke otak anda untuk menenangkan dan merilekskan tubuh. Meluangkan waktu untuk diri sendiri. Bisa jadi mendengarkan musik, membaca buku yang bagus, atau pergi ke bioskop. Melakuakan meditasi. Studi menunjukkan bahwa meditasi, waktu keheningan yang ditetapkan untuk memfokuskan pikiran pada pemikiran positif atau netral, dapat membantu menurunkan stres. Tidur cukup. Kebanyakan orang dewasa membutuhkan 7 hingga 9 jam tidur malam untuk merasakan manfaat yang besar dari tidur yang bagus. Aktivitas fisik dapat mengendurkan otot-otot Anda dan meningkatkan suasana hati Anda. Aktivitas fisik juga dapat membantu meringankan gejala depresi dan kecemasan. Aktivitas fisik meningkatkan kadar bahan kimia “merasa baik” dalam tubuh Anda yang disebut endorfin. Endorfin dapat membantu meningkatkan mood Anda. Mengungkapkan keluh dan kesah. Berbicara dengan teman atau anggota keluarga. Mereka mungkin membantu Anda melihat masalah Anda dengan cara baru dan menyarankan solusi. Atau, hanya bisa berbicara dengan anggota keluarga atau teman tentang sumber stres dapat membantu Anda merasa lebih baik. Mengistirahatkan Pikiran. Manfaat istirahat mental pada dasarnya adalah untuk menenangkan pikiran dan mengurangi stres berlebih. Hal ini penting untuk diperhatikan mengingat otak manusia memiliki titik jenuh. Penting untuk tidak membiarkan stres menguasai hidup Anda. Stres berkepanjangan dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental, serta kualitas hidup secara keseluruhan. Ada berbagai cara untuk mengatasi stres, seperti menerapkan pola hidup sehat, mengelola waktu dengan baik, dan mencari dukungan dari orang lain. Refrensi : Pietrangelo, A. Healthline (2023). The Effects of Stress on Your Body. American Psychological Association. (2024). How Stress Affects Your Healthe. U.S. Department of Health & Human Services. Womens Health (2021). Stress and Your Health. Qonita, A., Setiorini, S., Ratna, Maya, G., Zuraida, R. (2024). Dampak Stres Pada Kesehatan. Jurnal Medula, 14(12), 2202-2210. Mayo Clinic (2023). Chronic Stress Puts Your Health at Risk.
Asam Lambung
Produksi asam lambung yang berlebihan biasanya menyebabkan gangguan lambung seperti maag dan tukak lambung. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak faktor salah satunya adalah gaya hidup seseorang. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan suatu kondisi patologis sebagai akibat refluks asam lambung. Apabila kekambuhan GERD tidak di tangani dengan tepat maka hal itu akan sangat menganggu sehingga dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya, Ketidaktepatan penanganan kekambuhan GERD tanpa pengobatan atau terapi akan membuat inflamasi atau erosi pada mukosa esofagus lama kelamaan jika dibiarkan maka inflamasi akan semakin luas dan bisa menyebabkan seperti striktur (penyempitan) esofagus, esofagus Barrett’s dan kanker esofagus. PENYEBAB DAN GEJALA ASAM LAMBUNG Pola gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, tidak melakukan aktivitas fisik rutin, dan pola makan yang tidak teratur seperti telat makan, kekenyangan makan dan jenis makanan serta minuman seperti makanan cepat saji, kopi, teh, makanan berminyak, dan minuman berkarbonasi merupakan faktor-faktor yang dapat menyebabkan asam lambung, selain itu faktor stres juga bisa menyebabkan timbulnya asam lambung karena terjadinya gangguan pada tubuh maupun pikiran yang disebabkan oleh adanya perubahan dan tuntunan kehidupan meliputi perasaan cemas, gelisah, sedih, khawatir dan marah. Kondisi-kondisi seperti itulah yang akan menyebabkan produktivitas tubuh menurun serta adanya perubahahan keseimbangan di dalam tubuh khususnya organ pencernaan dan dapat membuat produksi asam lambung semakin meningkat maka hal itulah yang akan menjadi pemicu dari kekambuhan pada GERD. Gejala yang paling umum terjadi dari GERD adalah mulas dan heartburn. Heartburn sendiri adalah sensasi rasa terbakar dibagian dada, menjalar ke arah mulut, sebagai akibat dari naiknya asam lambung ke kerongkongan. Namun, hanya sebagian kecil dari peristiwa refluks yang bersifat simtomatik. Heartburn juga sering dikaitkan dengan rasa asam di bagian belakang mulut tanpa adanya rasa mual. PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN PENYAKIT ASAM LAMBUNG Pencegahan asam lambung yang paling utama dapat dilakukan dengan perubahan gaya hidup seperti mengatur pola makan, menjaga berat badan ideal, menghindari makanan pemicu asam lambung seperti makanan pedas dan asam serta makanan lainnya yang memicu terjadi asam lambung, dan tidak langsung berbaring setelah makan. Penelitian yang telah dilakuakan menunjukkan pemilihan jenis makanan merupakan faktor paling signifikan munculnya kejadian kambuh pada penderita asam lambung, selain itu, berhenti merokok, mengelola stres, dan berolahraga secara teratur juga dapat membantu mencegah asam lambung naik. Dokter juga dapat memberikan obat untuk mengatasi penyakit asam lambung seperti antasida untuk meredakan maag akibat asam lambung. Namun jika tetap terjadi hal tersebut disarankan untuk segera menemui dokter untuk penangan dan pencegahan dengan optimal dan Jika cara tersebut belum dapat mengatasi penyakit asam lambung, operasi dapat dilakukan. Refrensi : Putri, Diah, K., Lestari, F,A., Sutomo, A. (2024). Penyuluhan Kesehatan Kepada Masyarakat Di Desa Kresnomulyo Dusun 007 Tentang Penyakit Asam Lambung. Jurnal Pengabadian Kepada Masyarakat Ungu, 6(1), 15-20. Anggeria, E, Nababan, T, et.al. (2024). Penyuluhan Pecagahan Penyakit Asam Lambung (GERD) Gastro Esofangel Reflux Desease di SMP Negeri 19 Medan. Jurnal Mitra Prima, 6(2), 1-4. Achyadi, R., Firdaus, F., et.al. (2024). Edukasi Pencegahan dan Pengobatan Maag Serta Tukak Lambung di Apotek Kimia Farma. Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea, 2(2), 110-117. Mile, A,M., Suranata, F, M., Rantiasa, I, Made. (2020). Gambaran Stres dan Pola Makan Pada Penderita Gastro Esofangel Reflux Desease (GERD) di Wilayah Kerja Puskesmas Ranomut Manado. Jurnal Kesehatan, 4(1), 13-19. Clarret, Danisa, M., Hachem, C. (2018). Gastroesofangel Reflux Desease (GERD). The Journal of the Missouri State Medical Association, 115(3), 214-218. Ramatillah, Diana, L., Gloria, F., et.al. (2022). Pencegahan Penyakit GERD Melalui Gaya Hidup Sehat. Kami Mengabdi UTA’45, 1(2), 1-4. Aldelina, Helvy. (2019). Evaluasi Pola Makan Sebagai Upaya Pengurangan Kambuh Pada Penderita Gastritis Usia Remaja. Jurnal OSF.